21 Jul 2011

Thesis Defense, 20 July 2011

Pada hari Rabu tanggal 20 Juli yang lalu aku secara resmi dinyatakan lulus setelah disidang selama kurang lebih 1,5 jam. Horayyy!!! Aku bersyukur untuk nilai yang kudapatkan. Tetapi aku bersyukur lebih lagi untuk pelajaran berharga yang kudapatkan dalam menghadapi sidang thesis yang membuat tidurku selama ini tidak tenang.

Perjuangan selama 20 bulan meraih gelar MM akhirnya selesai sampai di sini. Tidak hanya belajar ilmu manajemen, aku juga belajar mendengar, menulis, dan berbicara dalam bahasa Inggris. Ya, bahasa pengantar kuliahku ini adalah bahasa Inggris. Thesis pun harus kutulis dalam bahasa Inggris, termasuk presentasi saat sidang (“speak in English please!”).

Presentasi serta mempertahankan thesis seorang diri di depan 2 dosen penguji dan 1 dosen pembimbing membuat nyaliku kerdil. Memikirkannya saja membuat jantungku dagdigdug seperti berada di alam lain.. Aku takut saat aku tampil nantinya aku tidak lancar berbahasa Inggris, pikiran jadi blank (lupa semua yang sudah kupelajari), atau tidak dapat menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh mereka. Aku meragukan diriku sendiri dan takut dapat nilai jelek. Hal ini selalu terlintas dalam benakku dan membuat pikiranku jadi beku.

Melihat kembali ke sidang thesis yang sudah berlalu, aku rasa aku pasti gagal jika aku menjadi seperti apa yang kutakutkan. Ketakutan sangat ingin menguasai diriku dan menggagalkan potensi yang kumiliki. Agar bisa memberikan yang terbaik, pertama-tama aku harus menetralisir ketakutan dalam diriku. Belum lama ini aku baru saja membeli sebuah buku yang berjudul “ThinkerToys: ‘Handbook’ Permainan Berpikir para Pebisnis Kreatif” yang ditulis oleh Michael Michalko. Cobalah lihat gambar berikut ini.







Apa yang kamu lihat? Gambar segitiga dan panah? Perhatikan baik-baik sekali lagi yang bisa kamu temukan di dalam gambar. Aku baru selesai membaca bab pertama dan menerapkan latihan ‘Tik-Tok’ yaitu menggantikan gagasan negatif nan subjektif (Tik) dengan gagasan positif nan objektif (Tok). Saat kita melihat gambar sama seperti saat kita berpikir. Jika kita fokus hanya kepada warna hitam maka warna putih tidak akan memperlihatkan dirinya. Lihat gambar sekali lagi dengan fokus pada warna putih, kata apa yang terlihat pada gambar?

“We are what we eat”. Kalau makan racun bisa keracunan dan sakit, kalau makan makanan bergizi pasti tubuh sehat dan sistem kekebalan tubuh meningkat. Seperti halnya tubuh, jiwa kita juga perlu diberi makan. Ketika aku mulai merasa takut (entah itu saat gelap, saat kehilangan, ataupun saat mengambil keputusan yang akan menentukan masa depanku) ada kalimat favorit yang menjadi andalanku: “Jika Tuhan ada di belakangku, kepada siapakah aku harus takut? Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”.

Sebelum dosen penguji memberikan pernyataan lulus atau tidaknya diriku, salah seorang dari mereka menanyakan, “How is your feeling now?” dan aku hanya menjawab, “Nervous..” Kenyataannya, pada saat bersalaman dengan mereka aku baru sadar bahwa tanganku tetap hangat, tidak dingin layaknya orang yang sedang grogi.

Sehari setelah sidang, aku meminta ucapan selamat dari beberapa temanku. Mereka langsung memasang wajah terkejut, hampir tidak percaya karena pada hari sidang aku masih bekerja seperti biasa. Untuk teman yang menanyakan jadwal sidang dan kubilang “rahasia!”, mian haeyo ^^

Kepada teman-teman yang bersedia meluangkan waktunya untuk mengisi kuesioner thesis saya, saya ucapkan banyak terima kasih. Kepada teman-teman yang membantu saya menyebar kuesioner, saya beruntung memiliki kalian sebagai teman. Kepada teman-teman yang menyebut nama saya di dalam doanya, terima kasih buat dukungannya. Semoga teman-teman selalu diberkati Tuhan, berada dalam kasih dan kebaikanNya senantiasa 😊

Tidak ada komentar:

Posting Komentar