18 Okt 2011

Jadi orang baik itu…

“Emosi!”, satu kata yang bertengger di benakku hari ini. Darah yang naik ke kepala terlalu banyak berhasil menekan otakku hingga tak dapat berpikir dengan jernih. Aku mengawali hari ini dengan mood yang tidak happy karena hari sebelumnya aku dimarahi. Kata-katanya yang sama sekali tidak ada pengertian itu, membuatku tidak betah dan ingin pergi saja dari rumah. Di tengah hari, teman yang kumohon bantuannya malah menganggap aku sebagai beban, memvisualisasikan diriku dengan stereotype orang lain, dan memberikan alasan yang tidak logis. Kecewa? ya, jelas! dengan fakta-fakta yang ada, alasannya itu tidak dapat kumengerti…

Saat aku emosi, ada celah di mana pikiranku dipenuhi tekad untuk membalas. Mata ganti mata, gigi ganti gigi. Apa yang mereka perlakukan terhadapku akan kuperlakukan juga mereka seperti itu. Di sini aku berpikir, jadi orang baik itu susah! orang baik itu kalau ditampar pipi kirinya, dia akan memberikan pipi kanannya juga, dan bukan membalas. Orang baik itu kalau dipaksa menemani jalan sejauh satu mil, dia akan menemani jalan sejauh dua mil. Bayangkan diri kita sendiri dan orang-orang yang kita kenal, adakah yang seperti itu?

Kalau kita baik terhadap orang yang baik kepada kita saja, kita tidak ada bedanya dengan seorang penjual dan pembeli (ada uang = ada barang). Tetap baik walaupun kita tidak mendapatkan apa-apa, tetap baik walaupun orang telah berlaku tidak baik kepada kita.. itu yang membedakan nilai sebuah kebaikan.