“Emosi!”, satu kata yang bertengger di benakku hari ini. Darah yang
naik ke kepala terlalu banyak berhasil menekan otakku hingga tak dapat
berpikir dengan jernih. Aku mengawali hari ini dengan mood yang tidak
happy karena hari sebelumnya aku dimarahi. Kata-katanya yang sama sekali
tidak ada pengertian itu, membuatku tidak betah dan ingin pergi saja
dari rumah. Di tengah hari, teman yang kumohon bantuannya malah
menganggap aku sebagai beban, memvisualisasikan diriku dengan stereotype
orang lain, dan memberikan alasan yang tidak logis. Kecewa? ya, jelas!
dengan fakta-fakta yang ada, alasannya itu tidak dapat kumengerti…
Saat aku emosi, ada celah di mana pikiranku dipenuhi tekad untuk
membalas. Mata ganti mata, gigi ganti gigi. Apa yang mereka perlakukan
terhadapku akan kuperlakukan juga mereka seperti itu. Di sini aku
berpikir, jadi orang baik itu susah! orang baik itu kalau ditampar pipi
kirinya, dia akan memberikan pipi kanannya juga, dan bukan membalas.
Orang baik itu kalau dipaksa menemani jalan sejauh satu mil, dia akan
menemani jalan sejauh dua mil. Bayangkan diri kita sendiri dan
orang-orang yang kita kenal, adakah yang seperti itu?
Kalau kita baik terhadap orang yang baik kepada kita saja, kita tidak
ada bedanya dengan seorang penjual dan pembeli (ada uang = ada barang).
Tetap baik walaupun kita tidak mendapatkan apa-apa, tetap baik walaupun
orang telah berlaku tidak baik kepada kita.. itu yang membedakan nilai
sebuah kebaikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar