12 Agu 2013

Filosofi Kehidupan: Kehendak Tuhan

Berikut ini adalah percakapan antara dua orang sahabat tentang kehidupan.

P1: Setiap makhluk diberi peran masing2 agar semua berjalan sesuai dengan alur yg ditetapkan. Lalu muncul sebuah pertanyaan “karena semua sudah ditetapkan, salahkah orang yang berbuat jahat? apabila tidak ada manusia yang sanggup berkehendak atau bertindak atas kemauan sendiri, maka bukankah orang jahat itu sebenarnya hanya menjalankan kehendakNya? dan orang baik juga sama”

P2: iya

P1: “tidaklah layak seorang baik dipuji dan orang jahat disalahkan”, gw dulu mikir begitu ahahhaha sekarang beda lagi sih

P2: sekarang?

P1: karena semua memang sudah ditetapkan dan hanyalah kehendak yang berjalan, orang jahat atau orang baik, bukankah semua hanya peran. Di saat semua tidak bisa berkemauan dan berjalan dengan sendirinya tetapi hanyalah dijalankan saja, maka apalah bedanya orang baik, jahat, aku atau kamu? karena semua hanyalah kehendakNya, karena Dia berkehendak maka semua ada, maka terbentuklah cerita, maka semua berjalan. Maka dari itu, orang baik, jahat, aku, kamu, menyalahkan atau memuji, lakukan saja semuanya. Tidak mengapa menyalahkan atau memuji karena bahkan pujian dan tuduhan berasal dari kehendakNya yang kita jalankan. Maka hidup hanya patut dijalani. Turuti saja keinginan. Bahagiakan orang lain dan diri sendiri. Karena saat kesadaran telah terlampaui, bukankah semuanya hanya oleh Dia saja. Gampangnya jalani aja, enjoy aja hahahaha

P2: hahaha, ntar klo udah kiamat baru bisa tanya2 deh

P1: yup, hahahaa klo udah waktunya baru deh tanya2, hahahhaa

P2: klo gw mikirnya beda lagi

P1: gimana?

P2: kehendakNya ada tapi ngga dipaksakan. Manusia bebas milih. Segala sesuatu yg baik itu kehendakNya. Klo segala sesuatu udah ditetapkan mutlak, ngga akan ada baik dan jahat. Kenapa cuma berkehendak tapi ngga ditetapkan mutlak? Kenapa udah tau tapi dibiarkan terjadi?

P1: terus?

P2: gw sendiri ngga tau jawabannya

P1: hahahahaha

P2: manusia diciptakan menurut gambaranNya. Klo sebagai manusia gw bisa mengatur semuanya mutlak harus sesuai kehendak gw

P1: terus?

P2: kayaknya bekalan membosankan klo segalanya pasti


ym, 27 November 2012.

4 Agu 2013

Serius Jatuh Cinta Diam-diam

“Ru, muka lo serius banget!” begitu kata seorang teman yang menghampiriku saat aku sedang berkutat di depan komputer. “Hah? Enggak ah, biasa aja”, kataku menampik. Tidak hanya di depan komputer, beberapa teman juga bilang mukaku serius ketika aku sedang mengerjakan sesuatu padahal aku sedang dalam modus tenang dan santai. Karena sering dibilang muka serius, aku jadi membayangkan.. saat sedang di depan komputer muka serius, baca buku muka serius, lagi makan muka serius, di toilet muka serius… teman-teman memang kadang bisa melihat apa yang tidak kita lihat pada diri sendiri. Akhirnya, tiap kali ada yang bilang mukaku serius, dengan santainya aku akan bilang, “nggak kok, emang udah default muka gw begini”.


Sekarang, aku serius jatuh cinta diam-diam. Kalau dia itu sebuah planet, aku mau jadi satelit yang selalu mengitarinya. Dia itu seperti magnet buat mataku. Ke mana dia beredar, mataku selalu tertuju ke arah dia. Pernah saat sedang asiknya memandang dia dari samping belakang, tiba-tiba.. *zink* dia melirik ke arahku. Bulatan hitam matanya mengunci diriku mematung tak berkutik. Dengan respon yang terlambat, perlahan aku memutar kepala agar mataku bisa lepas dari matanya.

Saat melihat dirinya, ada beberapa pertanyaan yang aku ajukan kepada diriku sendiri. Aku berpikir apa aku bisa komitmen suka sama dia. Kalau dia sudah tua, secara fisik tidak menarik lagi, apa perasaanku ke dia nantinya masih bisa tetap sama? Kadang dia kelihatan berkilau, kadang kelihatan lusuh. Apapun kondisinya, setiap ada kesempatan melihatnya aku seperti berada di sebuah taman yang udaranya sejuk. Taman yang tadinya hanya dipenuhi tumbuhan hijau akan berubah menjadi taman berbunga tempat kupu-kupu bermain kalau melihat dia tersenyum. Bagaimana cara membuat dia tersenyum dengan kehadiranku menjadi pertanyaan berikutnya.

Sabtu 27 Juli 2013, aku membeli buku “Manusia Setengah Salmon” dan “Marmut Merah Jambu” yang ditulis Raditya Dika. Kegilaan yang disajikannya dalam video stand up comedy di Youtube membuatku tertawa dan tertarik untuk membaca buku yang ditulis olehnya. Baru selesai baca bab pertama buku Marmut Merah Jambu, ceritanya pas sekali dengan pengalamanku saat ini. Judul bab pertamanya adalah “Jatuh Cinta Diam-diam”. Ya, blog kali ini kutulis karena terinspirasi dari cerita di buku itu. Ceritanya berbeda dengan ceritaku, tetapi intinya sama. Mereka yang jatuh cinta diam-diam… kenapa diam-diam?