Pada hari Rabu tanggal 20 Juli yang lalu aku secara resmi dinyatakan
lulus setelah disidang selama kurang lebih 1,5 jam. Horayyy!!! Aku
bersyukur untuk nilai yang kudapatkan. Tetapi aku bersyukur lebih lagi
untuk pelajaran berharga yang kudapatkan dalam menghadapi sidang thesis
yang membuat tidurku selama ini tidak tenang.
Perjuangan selama 20 bulan meraih gelar MM akhirnya selesai sampai di
sini. Tidak hanya belajar ilmu manajemen, aku juga belajar mendengar,
menulis, dan berbicara dalam bahasa Inggris. Ya, bahasa pengantar
kuliahku ini adalah bahasa Inggris. Thesis pun harus kutulis dalam
bahasa Inggris, termasuk presentasi saat sidang (“speak in English
please!”).
Presentasi serta mempertahankan thesis seorang diri di depan 2 dosen
penguji dan 1 dosen pembimbing membuat nyaliku kerdil. Memikirkannya
saja membuat jantungku dagdigdug seperti berada di alam lain.. Aku takut
saat aku tampil nantinya aku tidak lancar berbahasa Inggris, pikiran
jadi blank (lupa semua yang sudah kupelajari), atau tidak dapat menjawab
pertanyaan yang dilontarkan oleh mereka. Aku meragukan diriku sendiri
dan takut dapat nilai jelek. Hal ini selalu terlintas dalam benakku dan
membuat pikiranku jadi beku.
Melihat kembali ke sidang thesis yang sudah berlalu, aku rasa aku
pasti gagal jika aku menjadi seperti apa yang kutakutkan. Ketakutan
sangat ingin menguasai diriku dan menggagalkan potensi yang kumiliki.
Agar bisa memberikan yang terbaik, pertama-tama aku harus menetralisir
ketakutan dalam diriku. Belum lama ini aku baru saja membeli sebuah buku
yang berjudul “ThinkerToys: ‘Handbook’ Permainan Berpikir para Pebisnis
Kreatif” yang ditulis oleh Michael Michalko. Cobalah lihat gambar
berikut ini.
Apa yang kamu lihat? Gambar segitiga dan panah? Perhatikan baik-baik
sekali lagi yang bisa kamu temukan di dalam gambar. Aku baru selesai
membaca bab pertama dan menerapkan latihan ‘Tik-Tok’ yaitu menggantikan
gagasan negatif nan subjektif (Tik) dengan gagasan positif nan objektif
(Tok). Saat kita melihat gambar sama seperti saat kita berpikir. Jika
kita fokus hanya kepada warna hitam maka warna putih tidak akan
memperlihatkan dirinya. Lihat gambar sekali lagi dengan fokus pada warna
putih, kata apa yang terlihat pada gambar?
“We are what we eat”. Kalau makan racun bisa keracunan dan sakit,
kalau makan makanan bergizi pasti tubuh sehat dan sistem kekebalan tubuh
meningkat. Seperti halnya tubuh, jiwa kita juga perlu diberi makan.
Ketika aku mulai merasa takut (entah itu saat gelap, saat kehilangan,
ataupun saat mengambil keputusan yang akan menentukan masa depanku) ada
kalimat favorit yang menjadi andalanku: “Jika Tuhan ada di belakangku,
kepada siapakah aku harus takut? Segala perkara dapat kutanggung di
dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”.
Sebelum dosen penguji memberikan pernyataan lulus atau tidaknya
diriku, salah seorang dari mereka menanyakan, “How is your feeling now?”
dan aku hanya menjawab, “Nervous..” Kenyataannya, pada saat bersalaman
dengan mereka aku baru sadar bahwa tanganku tetap hangat, tidak dingin
layaknya orang yang sedang grogi.
Sehari setelah sidang, aku meminta ucapan selamat dari beberapa
temanku. Mereka langsung memasang wajah terkejut, hampir tidak percaya
karena pada hari sidang aku masih bekerja seperti biasa. Untuk teman
yang menanyakan jadwal sidang dan kubilang “rahasia!”, mian haeyo ^^
Kepada teman-teman yang bersedia meluangkan waktunya untuk mengisi
kuesioner thesis saya, saya ucapkan banyak terima kasih. Kepada
teman-teman yang membantu saya menyebar kuesioner, saya beruntung
memiliki kalian sebagai teman. Kepada teman-teman yang menyebut nama
saya di dalam doanya, terima kasih buat dukungannya. Semoga teman-teman
selalu diberkati Tuhan, berada dalam kasih dan kebaikanNya senantiasa 😊
